Mengenal Tim Arema FC Singo Edan – Arema Football Club adalah sebuah klub sepak bola profesional Indonesia yang berbasis di Malang , provinsi Jawa Timur. Klub ini berkompetisi di Liga 1 , papan atas Sepak Bola di Indonesia. Julukan Arema adalah “Singo Edan” (Si Singa Gila).

Asal usul nama Arema

Nama Arema mengacu pada seorang tokoh legendaris dalam cerita rakyat Malang bernama Kebo Arema yang merupakan seorang ksatria di istana Raja Kertanegara dari Singhasari ketika yang terakhir memerintah kerajaan pada abad ke-13. Nama kerajaan terkait dengan distrik Singosari di Kabupaten Malang kontemporer, yang terletak beberapa mil di utara kota Malang. Menurut lagu cerita rakyat Panji Wijayakrama, Kebo Arema menumpas pemberontakan Kelana Bhayangkara hingga semua pemberontak diremukkan seperti daun dimakan ulat.

Mengenal Tim Arema FC Singo Edan

Dalam kitab kuno Negarakertagama, Kebo Arema juga disebut-sebut sebagai orang yang mengakhiri pemberontakan Cayaraja. Kebo Arema juga memimpin kampanye ekspansi untuk Kertanegara . Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkanKerajaan Pamalayu di pulau Sumatera berpusat di tempat yang sekarang dikenal sebagai provinsi Jambi untuk memiliki akses ke Selat Malaka. Kepahlawanan Kebo Arema sedikit diketahui karena buku-buku sejarah berfokus pada prestasi Kertanegara sebagai raja Singhasari yang paling terkemuka. Baca Juga Gresik United Cetak Kemenangan Perdana Liga 3

Di tahun 80-an

Nama Arema muncul kembali di Malang sekitar tahun 1980-an. Meskipun tidak jelas apakah kebangkitan itu ada hubungannya dengan Kebo Arema, nama itu menjadi populer di kalangan pemuda di Malang yang telah mengembangkan sub-budaya . Arema merupakan akronim dari Arek Malang yang artinya Pemuda Malang. Sub-budaya Arema memiliki identitas, simbol, bahkan bahasa yang berbeda yang membedakannya dengan budaya utama di Provinsi Jawa Timur. Hal ini sering dipandang sebagai tantangan budaya terhadap budaya anak muda di ibu kota provinsi Surabaya tersebut . Para pendukung Arek Malang membangun reputasi dan eksistensi mereka melalui musik rock dan olahraga lokal. Selain tinju, sepak bola adalah olahraganyayang sangat mengidentifikasikan diri dengan Arek Malang, terutama masyarakat berpenghasilan rendah yang menganggapnya sebagai platform untuk berekspresi.

Arema didirikan pada puncak perkembangan subkultur ini pada 11 Agustus 1987 dengan tujuan untuk mengembangkan klub sepak bola profesional di Malang. Saat itu, tim Malang yang ada, Persema Malang , bergantung pada anggaran pemerintah dan merupakan federasi klub-klub kecil di Malang. Klub profesional Malang adalah gagasan dari Jenderal Angkatan Darat Acub Zaenal, yang aktif di PSSI , asosiasi sepak bola Indonesia, dan mengelola kompetisi sepak bola profesional pertama di negara itu Galatama, dan Dirk Sutrisno, pendiri klub sepak bola Armada’86 di Malang yang ingin mengupgrade timnya. Nama aslinya Aremada, gabungan dari Armada dan Arema, sebelum menjadi Arema’86. Namun, kesulitan keuangan menunda penggabungan resmi, sebagai klub sepak bola Arema, sampai sang jenderal menyelamatkan penyebabnya dan membuka jalan bagi partisipasi Arema di Galatama.

Mengenal Tim Arema FC Singo Edan

Karena berdirinya pada masa horoskop Leo, Arema memilih lambang singa, atau singo (dalam bahasa Jawa), yang juga merupakan bagian depan dari nama kerajaan Singhasari atau Singosari.

Era Galatama

Di awal keikutsertaan Arema di Galatama, pencarian pemain berkualitas profesional ala gerilya berlangsung satu bulan sebelum Arema resmi berdiri. Arema berusaha meyakinkan pemain klub yang ada untuk bergabung, di antaranya Maryanto dari Persema, Kusnadi Kamaludin dari Armada, Mahdi Haris dari Arseto , Jamrawi dan Yohanes Geohera dari Mitra Surabaya serta kiper Dony Latuperisa yang saat itu sedang menjalani skorsing PSSI. Mantan pelatih timnas Indonesia, Sinyo Aliandoe, juga setuju bergabung. Untuk akomodasi pertama mereka, pemain Arema menggunakan barak militer yang disediakan oleh angkatan udara Indonesia, yang mengelola Bandara Abdul Rachman Saleh Malang . Lapangan rumput pangkalan udara itu juga digunakan sebagai tempat latihan.

Arema menghadapi banyak masalah keuangan sampai Acub Zaenal menjadi pemodal dan pelindung yang stabil. Prestasi Galatama Arema awalnya tak menentu, meski tak pernah menghuni dasar klasemen. Hampir di setiap musim Galatama, Arema tidak pernah bisa bertahan lama di puncak. Meski demikian, Arema memenangkan kompetisi Galatama 1992. Saat itu, para pemainnya antara lain pemain tetap Timnas Indonesia Aji Santoso , Mecky Tata, Singgih Pitono dan Jamrawi. Sejak saat itu, Arema dianggap sebagai bagian dari kelompok elit klub di Indonesia dengan pendukung fanatik, terutama yang merupakan subkultur anak muda di Malang.

Era Liga

Selama Liga Indonesia (Ligina) tahun 1994 hingga 2007, Arema tujuh kali masuk babak lanjutan, termasuk enam kali di 8 besar (1999–2000, 2001, 2002, 2005, 2006, dan 2007). Meski prestasinya stabil, Arema tak pernah lepas dari masalah finansial. Hampir setiap musim, masalah ini menghantui klub, yang menyebabkan seringnya terjadi perubahan organisasi. Pada tahun 2003, Arema mengalami kesulitan keuangan yang parah, yang mempengaruhi kinerja tim. Hal ini menyebabkan manajemen Arema diserahkan kepada perusahaan rokok raksasa Bentoel Group, yang menjalankan pabrik di dekat Malang, pada pertengahan musim 2003.

Namun, Arema tetap tak bisa lepas dari degradasi ke kasta kedua Liga. Konon, pembiayaan Bentoel membantu Arema untuk bangkit kembali dan meraih promosi di tahun 2004. Setelah kembali ke papan atas liga, Arema memenangkan Copa Indonesia, turnamen sistem gugur untuk klub, pada tahun 2005 dan 2006 dan tim U-18 Arema memenangkan Piala Soeratin, turnamen utama pemuda negara itu, pada tahun 2007. Pada tahun 2006 dan 2007, Arema dan pelatihnya Benny Dollo menerima penghargaan dari Tabloid Bola, publikasi olahraga terkemuka di Indonesia, sebagai tim terbaik dan pelatih terbaik, masing-masing.

Era Liga Super Indonesia

Setelah konflik lain dalam administrasi liga sepak bola Indonesia, kompetisi Liga Super Indonesia pertama , edisi 2008-09, muncul dengan Arema yang berakhir dengan mengecewakan di urutan ke-10. Dua bulan setelah kompetisi usai, pada 3 Agustus 2009 di Hotel Santika Malang , Bentoel Group menjual Arema kepada sekelompok orang, termasuk fans, yang khawatir dengan kinerja dan masa depan klub.

Pelepasan tersebut juga merupakan produk sampingan dari penjualan saham mayoritas yang dimiliki oleh Bentoel Group dalam operasi rokok Bentoel kepada perusahaan multinasional British American Tobacco (BAT) yang tidak memiliki niat untuk membiayai klub sepak bola lokal di Indonesia. Sebelumnya sempat ada wacana penggabungan Arema dengan Persema Malang, tetapi para pendukung keberatan dengan rencana ini. Pada ISL musim 2009–10, Arema yang dilatih oleh pelatih asal Belanda Robert Alberts memenangkan gelar. Arema memiliki bakat untuk kembali kuat setelah menerima pukulan, yang membuatnya disayangi oleh para pendukung setianya yang menemani tim ke mana pun mereka pergi.

Kepemilikan Klub

Pada saat Arema dikelola oleh Bentoel Group , Badan Hukum yang digunakan adalah PT. Arema Indonesia. Badan hukum tersebut masih digunakan oleh Yayasan Arema setelah Bentoel mengembalikan Arema ke Yayasan pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2015. Saat dikembalikan kepada Yayasan pada tahun 2009, susunan pemegang saham PT. Arema Indonesia adalah Yayasan Arema dengan 13 saham (93%, mayoritas) dan Lucky Andriandana Zainal dengan satu saham (7%), yang diberikan sebagai penghargaan kepadanya sebagai pendiri Arema. Direktur Utama PT. Arema Indonesia adalah Iwan Budianto dan General Manager adalah Ruddy Widodo.

Sejak tahun 2015, Iwan Budianto membentuk badan hukum baru sebagai pengelola Arema FC sebagai akibat dari larangan penggunaan PT. Arema Indonesia dari Badan Olahraga Profesional (BOPI) karena Arema FC tidak berada di bawah naungan PT. Arema Indonesia. Badan hukum baru yang digunakan dan didaftarkan Arema sejak tahun 2015 adalah PT. Arema Aremania Berprestasi Indonesia (AABBI).

Sejak 6 Juni 2021, Arema memasuki era baru jelang peluncuran Liga 1 musim 2021, setelah direksi Arema menunjuk seorang pengusaha yang kerap disapa “Malang Kaya Gila”, Gilang Widya Pramana sebagai President Club.